Merah Putih di Bawah Langit Agustus

Angin Malam dan Bendera Lusuh Malam itu, langit Agustus terasa lebih dingin dari biasanya. Angin kemarau membawa bau tanah kering dan sedikit aroma asap dari dapur-dapur rumah di Desa Tegalwangi.

Di balai desa, panitia HUT RI sedang menyiapkan dekorasi. Tiang bendera yang berdiri di tengah lapangan sudah dilapisi cat putih baru, tetapi bendera yang akan dikibarkan besok masih terlipat rapi di meja.


Raka, pemuda 19 tahun, duduk di sudut balai. Dia baru saja pulang dari perantauan untuk libur kuliah dan diminta menjadi pembawa bendera saat upacara besok. Tapi ada yang membuatnya resah: kakeknya baru saja meninggal dua bulan lalu, dan beliau selalu yang memegang bendera di setiap upacara 17 Agustus di desa itu.


Saat semua orang pulang, Raka memutuskan untuk melihat bendera itu. Ia membukanya pelan. Kainnya tebal, warnanya agak pudar, tapi bersih. Saat tangannya menyentuh bagian merah, hawa dingin menusuk kulitnya.


“Jaga bendera ini… jangan biarkan jatuh ke tanah,” suara berat terdengar di telinganya.

Raka menoleh cepat—tak ada siapa-siapa. Hanya angin malam yang meniup tirai kain di jendela.



Bab 1 – Tanda-Tanda Aneh

Keesokan paginya, desa mulai sibuk. Anak-anak berlarian membawa bendera kecil, ibu-ibu menyiapkan jajanan untuk lomba, dan bapak-bapak memaku papan untuk panjat pinang.

Raka mencoba mengabaikan kejadian tadi malam. Tapi saat ia melipat bendera untuk dibawa ke lapangan, ia melihat noda merah gelap di ujung kain—mirip darah yang sudah lama kering.


Dia menanyakan hal itu ke Pak Surip, ketua panitia.

“Oh, itu? Bendera ini peninggalan zaman perang. Konon dulu dipakai oleh pasukan gerilya di sini. Darah di situ… darah asli,” kata Pak Surip sambil tertawa kecil. “Katanya sih, pemilik terakhirnya gugur di bawah tiang bendera, mempertahankannya dari tentara Belanda.”


Raka menelan ludah. “Siapa namanya?”

“Letnan Suryo.”


Nama itu asing, tapi entah kenapa membuat dadanya terasa sesak.



Bab 2 – Pertemuan Pertama

Malam menjelang 17 Agustus, Raka tak bisa tidur. Ia memutuskan pergi ke balai desa lagi. Lapangan sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing.

Bendera sudah terpasang di tali, siap untuk dikibarkan besok.


Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Kain bendera berkibar meski belum ditarik ke puncak tiang. Dari arah tiang itu, muncul sosok laki-laki berwajah keras, mengenakan seragam lusuh Tentara Nasional Indonesia, lengkap dengan ikat kepala merah putih yang ternoda darah.


“Namamu Raka?” suaranya dalam.

Raka mundur setapak. “S-siapa…?”

“Aku Letnan Suryo. Aku… sudah lama menjaga bendera ini. Dan besok, kau akan membawanya. Jangan sampai kau jatuhkan, walau apapun yang terjadi.”


Raka ingin bertanya lebih banyak, tapi sosok itu memudar perlahan, meninggalkan bau mesiu yang samar.



Bab 3 – Ujian

Tanggal 17 Agustus pagi, matahari terbit dengan langit cerah. Upacara dimulai. Semua berjalan lancar sampai saat pengibaran bendera.

Saat Raka mulai melangkah membawa bendera ke tiang, angin tiba-tiba berubah liar. Langit yang tadi cerah mendadak gelap. Kilat menyambar jauh di utara. Orang-orang mulai gelisah.


Di tengah langkahnya, Raka mendengar teriakan: “Jangan biarkan jatuh!”

Ia melihat sosok Letnan Suryo berjalan di sampingnya, meski orang lain tak melihat apa-apa.

Tiba-tiba tali tiang bendera terlepas dari kaitnya, membuat bendera nyaris terjatuh. Raka refleks memeluknya erat. Lututnya membentur tanah, tapi ia tidak melepaskannya.


Dalam kepalanya, ia mendengar suara Letnan Suryo:

"Dulu, aku gugur untuk memastikan bendera ini tetap berdiri. Kini, kau yang melanjutkan."



Bab 4 – Rahasia Bendera

Usai upacara, Raka duduk di bawah pohon beringin, memegang lututnya yang berdarah.

Letnan Suryo muncul lagi. “Terima kasih. Kini aku bisa pergi dengan tenang.”


Raka menatapnya. “Kenapa bendera ini begitu penting?”

“Karena di dalamnya… ada sumpah kami. Setiap tetes darah di kain itu adalah janji untuk tidak menyerah, apapun yang terjadi. Janji itu harus dijaga, atau semangat bangsa ini akan pudar.”


Angin berhembus pelan. Sosok Letnan Suryo tersenyum, memberi hormat, lalu memudar menjadi cahaya yang menyatu dengan bendera.


Epilog – Penjaga Baru

Sejak hari itu, Raka selalu menjadi pembawa bendera di setiap upacara desa. Dia tak pernah lagi melihat Letnan Suryo, tapi setiap kali angin bertiup dan kain merah putih itu berkibar, ia merasa ada yang berdiri di sampingnya, memberi hormat.


Di hatinya, Raka tahu: roh pejuang itu belum pergi sepenuhnya. Dia hanya berpindah ke dalam setiap jiwa yang mau menjaga kemerdekaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GIAT BELAJAR

KEGIATANKU BELAJAR DI SEKOLAH SMPN 160 JAKARTA

"Anisa Ingin Berhijab"